- By Muhammad Irsan Rasyad, S.I.Kom.,Gr
- 14 Aug 2026
- 57
PRAMUKA Mengibar di Usia 65: Pesantren Al Azka Khidmati Hari Pramuka dengan Refleksi Sejarah
Pada tanggal 14 Agustus 2026, seluruh bangsa Indonesia memperingati
Hari Pramuka ke-65. Momentum bersejarah ini juga dirayakan dengan khidmat oleh
keluarga besar Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka, yang mencakup jenjang SDTQ,
SMPTQ, hingga SMATQ Al Azka. Tepat pukul 07.30 WIB, lapangan pesantren dipenuhi
oleh seluruh santri yang mengenakan seragam pramuka lengkap, mengikuti Apel Upacara
Bendera sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pendiri gerakan
kepanduan nasional.
Suasana pagi itu terasa berbeda. Selain diikuti oleh seluruh siswa,
apel ini juga dihadiri oleh segenap dewan guru, baik guru formal maupun guru
tahfizh. Kehadiran para pengajar dari dua bidang ini menunjukkan bahwa
nilai-nilai kepramukaan tidak hanya relevan dalam pendidikan umum, tetapi juga
selaras dengan pembentukan karakter islami yang ditanamkan di pesantren.
Kedisiplinan, kemandirian, dan semangat gotong royong yang menjadi inti dari
Pramuka merupakan nilai universal yang juga diajarkan dalam proses menghafal
Al-Quran.
Upacara berlangsung tertib dan lancar. Momen ini menjadi sarana
bagi siswa untuk melatih fokus, ketenangan, dan rasa hormat terhadap pemimpin
upacara serta bendera negara, nilai-nilai yang sangat penting bagi generasi penghafal
Al-Quran yang harus memiliki konsentrasi tinggi.
Pembina upacara pada kesempatan istimewa ini adalah Bapak Wahyudi,S.Pd.,Gr.
Dalam pidatonya yang inspiratif, beliau mengajak seluruh siswa untuk sejenak
berefleksi menelusuri sejarah terbentuknya Pramuka di dunia. Beliau mengisahkan
bahwa gerakan ini berawal dari pemikiran Lord Robert Baden-Powell, seorang
perwira militer Inggris, yang pada tahun 1907 mengadakan perkemahan pertama di
Pulau Brownsea sebagai cikal bakal gerakan kepanduan dunia.
Gagasan Baden-Powell ini kemudian menyebar ke berbagai negara,
termasuk Indonesia yang saat itu masih dalam masa perjuangan. Namun, pada masa
itu, organisasi kepanduan di Indonesia masih terpecah-pecah dalam berbagai
kelompok kecil.
Poin penting yang ditekankan oleh Bapak Wahyud adalah peran sentral
Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pada
tanggal 14 Agustus 1961, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 448 Tahun 1961,
keduanya meleburkan berbagai organisasi peningkatan kedisiplinan karakter yang
ada di Indonesia menjadi satu wadah tunggal bernama PRAMUKA (Praja Muda
Karana).
Peristiwa bersejarah ini ditandai dengan pelantikan Majelis
Pimpinan Nasional (Mapinas) di Istana Negara dan penganugerahan Panji-Panji
Gerakan Pramuka. Sejak saat itulah, tanggal 14 Agustus ditetapkan sebagai Hari
Pramuka Nasional. Tindakan peleburan ini bertujuan untuk menyatukan visi dan
misi pemuda Indonesia dalam membangun karakter bangsa yang tangguh dan
berintegritas.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 tahun 2026 ini mengusung tema yang
sangat relevan dengan tantangan masa depan, yaitu Memantapkan Langkah
Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045. Tema ini
menjadi pengingat bagi generasi muda, termasuk santri Al Azka, bahwa Pramuka
tidak hanya tentang baris-berbaris, tetapi juga tentang kontribusi nyata bagi
ketahanan bangsa, salah satunya melalui dukungan terhadap sektor pangan.
Melalui apel ini, Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka berharap
nilai-nilai luhur Pramuka dapat terus terinternalisasi dalam diri setiap siswa,
mencetak generasi yang tidak hanya hafal Al-Quran, tetapi juga memiliki
karakter kepemimpinan yang kuat untuk masa depan Indonesia.

