- By Muhammad Irsan Rasyad, S.I.Kom.,Gr
- 18 Aug 2026
- 57
Merdeka untuk Belajar, Merdeka untuk Berkontribusi: Semangat Baru Santri di HUT RI ke-81
Di pagi yang cerah, 17 Agustus 2026 menjadi
hari istimewa bagi keluarga besar Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka. Tepat pada
HUT Republik Indonesia ke-81, pesantren membuka rangkaian kegiatan kemerdekaan
dengan upacara bendera yang khidmat, suasana pagi itu terasa berbeda, bendera
merah putih berkibar gagah, langkah para petugas penuh wibawa dan untaian doa
baik mengalir dari hati para santri untuk negeri yang mereka cintai.
Upacara yang mengukuhkan Makna Merdeka
Pembina upacara HUT RI ke-81 dipimpin oleh
Ibda Ulinnuha, selaku Wakil Direktur Pendidikan Pesantren Tahfizhul Quran Al
Azka. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan yang menyentuh, “Pada hari kemerdekaan
ke-81 ini, negara Indonesia masih berdiri kokoh. Kalian para Santri SDTQ, SMPTQ
& SMATQ AL AZKA, masih terus bisa belajar dan menghafalkan Al-Quran di
Pesantren ini”. Kalimat itu bukan sekadar ucapan, melainkan pengingat bahwa
kemerdekaan adalah ruang untuk tumbuh, belajar dan beribadah dengan tenang.
Yang membuat upacara ini kian bermakna adalah
fakta bahwa pasukan pengibar bendera berasal dari santri tingkat SMP Tahfizhul
Quran Al Azka. Langkap tegap mereka, sorot mata penuh semangat dan kekompakan
dalam setiap gerakan menjadi bukti bahwa jiwa kemerdekaan juga hidup di dada
para penjaga Al-Quran.
Ketika Rumah dan tetangga Bukan Bagian dari
Perayaan
Di saat siswa-siswi di sekolah lain merayakan
hari kemerdekaan bersama keluarga di rumah atau riuh rendah dengan tetangga
rumah dalam beragam lomba 17-an. Santri Al Azka harus memilih jalan lain.
Setiap tahun, mereka memeriahkan HUT RI di lingkungan pesantren. Bukan karena
tak ingin bersama keluarga, melainkan karena pilihan mereka untuk mondok adalah
bagian dari ikhtiar menuntut ilmu dan menghafal Al-Quran 30 Juz.
Salah satu wajah yang menginspirasi adalah
ananda Muhammad Afnan Haziq, santri kelas SD Tahfizhul Quran Al Azka asal
Jakarta. Di usianya yang baru 6 tahun, ia sudah mondok sejak awal bulan Juli
lalu, berkat dukungan dan doa kedua orang tua, tekadnya begitu kuat untuk
tinggal jauh dari rumah demi belajar menghafal Al-Quran. Di balik senyumnya
yang polos, ada semangat besar yang mungkin tak semua anak seumurnya miliki.
Tiga Hari penuh Warna : Lomba yang
Menghidupkan Semangat
Memahami bahwa kehidupan santri di pesantren penuh dengan rutinitas padat dan jauh dari orang tua, pihak pesantren selalu menghadirkan berbagai lomba untuk membangkitkan semangat santri dalam memperingati HUT RI. Tahun 2026 ini, perlombaan diselenggarakan selama tiga hari, dari 17 hingga 19 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan ini dirancang bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai ruang bagi santri untuk menyalurkan minat, bakat dan energi positif mereka.

Di bidang olahraga, santri bisa unjuk gigi
dalam futsal, tenis meja, badminton dan catur. Setiap pertandingan menjadi
arena persahabatan, strategi dan sportivitas. Sementara di bidang agama, ada
lomba Azan, hafalan Asmaul Husna dan Asmaus Suwar. Lomba-lomba ini bukan
sekadar kompetisi, melainkan cara untuk memperkuat kecintaan mereka pada Al-Quran
dan nilai-nilai keislaman.
Tak kalah seru adalah lomba-lomba tradisional
yang selalu mengundang tawa dan sorak-sorai seperti : tarik tambang, estafet
sarung, kelereng sendok, voli air dan balap karung. Di lapangan Al Azka,
wajah-wajah ceria santri tampak begitu menghibur. Mereka berlari, tertawa dan
saling menyemangati, semua itu menjadi oase di tengah kepadatan kegiatan harian
pesantren.
Kebahagiaan yang Sederhana, Namun Dalam.
Kebahagiaan dan keceriaan santri selama masa
perlombaan kemerdekaan memang terlihat sederhana. Namun di balik itu, ada makna
yang dalam. Bagi mereka yang harus menuntut ilmu di Pesantren dengan segala
kepadatan kegiatan dan jarak dari orang tua, momen ini adalah hadiah yang tak
ternilai. Semua terhibur, semua merasa dihargai dan merasa bahwa perjuangan
mereka tidak sia-sia.
Ibda Ulinnuha kembali menegaskan dalam pesannya, “Perjuangan kalian saat ini para santri, bukan lagi melawan penjajah secara fisik, tapi kalian harus melawan kebodohan untuk membentuk karakter diri yang unggul, supaya bisa mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045 kelak”. Kalimat itu menjadi kompas bagi para santri, bahwa kemerdekaan bukan hanya soal upacara dan lomba, melainkan soal kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.
Pesantren sebagai Ruang Tumbuhnya Generasi
Emas
Semarak kemerdekaan setiap tahunnya, selalu
menjadi refleksi diri bagi santri untuk meningkatkan semangat belajar mereka.
Di Pesantren, mereka memiliki kesempatan emas untuk fokus belajar, membangun
karakter dan berjuang dalam sistem yang penuh dengan agenda kegiatan belajar
dan ibadah. Tidak ada gadget, tidak ada TV, tidak ada benda hiburan yang biasa
mereka jumpai di rumah. Namun, di situlah letak keunikan pesantren, santri bisa
menyalurkan minat dan bakat mereka ke bidang seni atau olahraga di kegiatan
ekstrakurikuler sekolah, tanpa terganggu oleh distraksi dunia digital.
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, Pesantren
seperti Al Azka menjadi benteng yang menjaga nilai-nilai luhur. Para santri
tidak hanya menghafal Al-Quran, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung
jawab dan cinta tanah air. Mereka adalah generasi yang sedang ditempa untuk
menjadi pemimpin masa depan, pemimpin yang tidak sebatas cerdas secara
intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral.
Merdeka untuk Belajar, Merdeka untuk
Berkontribusi
Kemerdekaan Indonesia ke-81 tahun ini bukan
hanya soal mengenang jasa pahlawan, melainkan juga melanjutkan perjuangan
mereka dengan cara yang relevan di masa kini. Bagi santri Pesantren Tahfizhul
Quran Al Azka, perjuangan itu adalah melawan kebodohan, membentuk karakter
unggul dan menyiapkan diri untuk Indonesia Emas 2045.
Di balik upacara yang khidmat, lomba yang seru
dan senyum ceria para santri, ada janji besar yang sedang ditunaikan. Janji
untuk menjadi generasi yang tidak hanya hafal Al-Quran 30 juz, tetapi juga
mencintai negeri ini dengan sepenuh hati. Dan di pagi yang cerah itu, bendera
merah putih bukan hanya berkibar di langit, tetapi juga di dada setiap santri
yang yakin bahwa mereka adalah bagian dari masa depan dan penerus bangsa Indonesia.

