- By KH. Abdul Aziz Mudzakir, S.Pd. Al Hafizh
- 25 Aug 2026
- 46
Sederhana dalam Hidup, Mulia dalam Akhlak: Teladan Nabi Muhammad SAW
Bulan Robiul Awal merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. Nabi yang mengemban amanah untuk menjadikan manusia tunduk kepada Allah swt, mengesakan-nya. Nabi Muhammad saw juga menjadi manusia pilihan yang mengangkat harkat martabat umat manusia dari akhlak yang buruk menjadi akhlak yang baik.
Ketika di Madinah, Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin umat, seorang khalifah, manusia terbaik, ash shadiqul mashduq (orang yang benar dan dibenarkan oleh Allah). Namun apakah kehidupan beliau bergelimang harta dan kemewahan…? seperti raja-raja yang lain, seperti Raja Persia, Raja Romawi dan sebagainya. Ternyata tidak demikian. Sebaliknya kehidupan beliau sangat sederhana dan bersahaja.
Di sebelah timur Masjid Nabawi
Madinah, tampak sebuah bangunan yang akan membuat kita takjub, terpesona karena
kesederhanaannya. Itulah tempat tinggal Rasul Agung Muhammad saw. Rumah itu
sangat kecil dengan hamparan tikar usang dan nyaris tanpa perabot.
Rumah Nabi Shallallahualaihi Wasallam sangat sederhana.
Sehingga jika istri beliau, Aisyah radhiallahu taala anha, tidur di sana maka
sebagian tubuhnya menghalangi Nabi yang sedang shalat. Dari Aisyah ra, istri
Nabi SAW, ia berkata,
كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ
رَسُوْلِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرِجْلاَيَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ
غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا
“Aku tidur di depan Rasulullâh Shallallahu alaihi
wasallam (yang sedang shalat-pen), dan kedua kakiku pada kiblat beliau. Jika
beliau hendak bersujud, beliau menyentuhku dengan jarinya, lalu aku menarik
kedua kakiku. Jika beliau telah berdiri, aku meluruskan kedua kakiku” (HR. Bukhari no. 382, Muslim no. 512).
Dari Aisyah radhiyallahuanha, ia berkata,
فَقَدْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِيْ عَلَى
بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ
“Suatu malam aku kehilangan Rasulullâh Shallallahu alaihi
wasallam dari tempat tidur, kemudian aku mencarinya, lalu tanganku mengenai
kedua telapak kaki beliau sebelah dalam ketika beliau sedang di tempat sujud” (HR. Muslim no. 486).
Gelas pecah ditambal oleh Nabi
Anas bin Malik radhiallahuanhu mengatakan:
أنَّ قَدَحَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ انكسرَ ، فاتخذَ مكان
الشَّعْبِ سلسلةً من فضةٍ
“Gelas Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam pecah. Kemudian beliau menambal bagian pangkal gagangnya dengan perak”
(HR. Bukhari no. 3109).
Sebagian kita mungkin memiliki gelas-gelas yang cantik
dan menarik. Ketika retak, atau pecah, maka biasanya tak lagi berselera untuk
memakainya dan akan berpikir untuk menggantinya dengan yang baru. Namun
ternyata tidak dengan Nabi SAW, gelas yang
pecah ditambal boleh beliau. Betapa sederhananya.
Wafat Zaid bin Tsabit bertutur, “Anas bin Malik pelayan
Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat
dari kayu yang keras dan di patri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku,
Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah
Rasulullah minum air, perasan kurma, madu dan susu” (HR Tirmidzi).
Benda lain yang dimiliki Rasulullah adalah baju besi
yang biasa dipakai saat berperang. Tetapi tak lama setelah beliau wafat baju
besi itu digadaikan kepada seorang Yahudi dengan beberapa karung gandum,
seperti yang pernah diriwayatkan Aisyah.
Sederhananya tempat tidur Nabi SAW
Soal tempat tidur Rasulullah saw, Ummul Muminin, Aisyah
ra menggambarkan bahwa suaminya itu tidak tidur di tempat yang mewah
كان فِراشُ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من أدَمٍ، وحَشوُه من لِيفٍ
“Tempat tidur Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam
dari kulit yang diisi dengan sabu kurmat” (HR. Bukhari no. 6456, Muslim no.
2082, HR At-Tirmidzi).
Hafshah saat ditanya, “Apa yang menjadi tempat tidur
Rasulullah saw?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas
itulah Rasulullah saw tidur.” Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati):
sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat lapis, tentu akan lebih empuk
baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.”
Manakala waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah saw
mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku
menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya nabi pakai, hanya saja aku lipat
empat. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah saw membalas, “Kembalikan kepada
asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari”
(HR At-Tirmidzi).
Cerita tentang tempat tidur Rasulullah saw juga pernah
menyembabkan Umar bin Khattab menangis. Padahal, Umar bin Khattab terkenal
sebagai pemuda yang gagah perkasa sehingga disegani banyak orang baik dari
kalangan lawan maupun kawan.
Dan terkadang beliau juga tidur di atas tikar yang
terbuat dari dedaunan, sehingga berbekas di kulit beliau jika tidur di atasnya.
Dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:
دَخلَ عمرُ بنُ الخطَّابِ رضيَ اللَّهُ عنهُ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ
عليهِ وسلَّمَ وَهوَ علَى حَصيرٍ قد أثَّرَ في جنبِهِ فقالَ: يا رَسولَ اللَّهِ،
لوِ اتَّخذتَ فِراشًا أَوثرَ مِن هذا فقالَ: ما لي ولِلدُّنيا وما لِلدُّنيا وما
لي، والَّذي نَفسي بيدِهِ ما مَثَلي ومَثَلُ الدُّنيا إلَّا كَراكبٍ سارَ في يَومٍ
صائفٍ فاستَظلَّ تحتَ شَجرةٍ ساعةً من نَهارٍ ثمَّ راحَ وترَكَها
Mengapa Umar ini sampai menangis…? Umar pernah meminta
izin menemui Rasulullah saw. Umar mendapati Rasulullah sedang berbaring di atas
tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau
hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras. “Aku ucapkan salam kepadanya dan
duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku,” ujar Umar bin Khattab
Rasulullah yang mulia pun sampai bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau
menangis, wahai Umar?”
“Bagaimana aku tidak menangis, wahai Rasulullah. Tikar
ini telah menimbulkan bekas pada tubuhmu, padahal engkau ini Nabi Allah dan
kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan
Kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera.”
Lalu Nabi saw berkata, “Mereka telah menyegerakan
kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita
adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan
hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia
berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”
ما لي ولِلدُّنيا وما لِلدُّنيا وما لي، والَّذي نَفسي بيدِهِ ما مَثَلي
ومَثَلُ الدُّنيا إلَّا كَراكبٍ سارَ في يَومٍ صائفٍ فاستَظلَّ تحتَ شَجرةٍ ساعةً
من نَهارٍ ثمَّ راحَ وترَكَه
“Apa urusanku terhadap dunia? Permisalan antara aku
dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang
hari yang panas terik, lalu ia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat di
siang hari, kemudian ia istirahat di sana lalu meninggalkannya” (HR. At
Tirmidzi 2/60, Al Hakim 4/310, Ibnu Majah 2/526.)
Sederhananya cara berpakaian Nabi
Dalam suatu hadits Bukhari-Muslim, diceritakan tentang
seorang Arab Badwi (daerah gurun/desa pinggiran) yang mengajukan beberapa
pertanyaan penting dan mendasar kepada Nabi SAW, ketika beliau sedang berkumpul
bersama para sahabatnya di masjid.
Namun yang menarik, perhatikan bagaimana ketika orang
Badwi ini masuk ke masjid. Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, beliau
mengatakan:
بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَصْحَابِهِ
جَاءَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ فَقَالَ: أَيُّكُمُ ابْنُ عَبْدِ
الْمُطَّلِبِ؟
“Ketika Nabi SAW
sedang bersama para sahabatnya, datanglah seorang lelaki Badwi lalu
bertanya: siapakah diantara kalian yang merupakan cucu Abdul Muthalib?”
Dalam riwayat lain:
بينما نحن جلوسٌ مع النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم في المسجدِ، دخل رجلٌ
على جَمَلٍ، فأناخه في المسجدِ ثم عَقَلَهُ، ثم قال لهم : أَيُّكم مُحَمَّدٌ ؟
“Ketika Nabi SAW
sedang bersama para sahabatnya, datanglah seorang lelaki sambil
menunggang unta, lalu ia meminggirkan untanya di masjid kemudian mengikatnya.
Ia bertanya: siapakah diantara kalian yang bernama Muhammad?” (HR. Bukhari no.
63, Muslim no. 12).
Jadi lelaki Badwi ini hendak mencari Nabi SAW seorang
Rasul, namun dia melihat tidak ada orang penampilannya mencolok atau beda
sendiri. Sehingga dia perlu untuk bertanya. Ini menunjukkan bahwa Nabi SAW
berbusana dan berpenampilan sebagaimana para sahabat, tidak beda sendiri, tidak
mencolok perhatian, walaupun beliau seorang yang paling mulia di antara mereka.
Tentang Makanan Nabi SAW
Nabi tidak pernah mendapati banyak makanan dalam
kesehariannya, Nabi Shallallahualaihi Wasallam dan keluarga tidak mendapati
makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan
dan terpenuhinya kebutuhan pokok, sebagaimana dalam hadits-hadits yang
sebelumnya.
Dari Malik bin Dinar radhiallahu’anhu, beliau
mengatakan:
مَا شَبِعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ خُبْزٍ قَطُّ وَلاَ لَحْمٍ
إِلاَّ عَلَى ضَفَفٍ
“Rasulullah SAW tidak pernah merasakan kenyang karena
makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu
(maka beliau makan sampai kenyang)” (HR. Tirmidzi).
Biasanya sekali dalam dua atau tiga hari beliau dan
keluarga baru merasakan kenyang. Itu pun sekedar makan roti gandum, makanan
yang sangat sederhana. Aisyah radhiallahuanha mengatakan:
ما شبِعَ آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم من خُبزِ بُرٍّ مَأدومٍ ثلاثةَ
أيامٍ حتى لحِقَ باللهِ
“Keluarga Muhammad SAW tidak pernah merasakan kenyang
karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari,
sampai ia bertemu dengan Allah (wafat)” (HR. Bukhari no. 5423, Muslim no. 2970).
Dalam riwayat lain:
ما شبع آلُ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ من خبزِ شعيرٍ ، يومَين
مُتتابِعَينِ ، حتى قُبِضَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ
“Keluarga Muhammad SAW tidak pernah merasakan kenyang
karena makan roti gandum dalam dua hari, sampai beliau wafat” (HR. Bukhari no.
6454, Muslim no. 2970).
Sebagian kita setiap hari merasakan kenyang bahkan tidak
hanya sekali, namun berkali-kali dalam satu hari. Karena melimpahnya makanan
yang kita dapati. Namun sangat sederhananya kehidupan Nabi Shallallahualaihi
Wasallam sampai-sampai hanya merasakan kenyang hanya sekali dalam dua hari atau
tiga hari.
Baginda Nabi Muhammad saw hidup dengan sangat zuhud.
Seperti dituturkan oleh Aisyah, betapa Rasulullah hanya mempunyai dua baju,
tidur di atas daun pelepah kurma, perutnya selalu lapar, bahkan pernah diganjal
dengan batu, dan sangat sedikit tidur.
Terkadang keluarga Nabi tidak mendapati makanan di suatu hari
Dari Aisyah radhiyallahuanha, ia mengatakan:
قال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، ذاتَ يومٍ يا عائشةُ ! هل
عندكم شيٌء ؟ قالت فقلتُ : يا رسولَ اللهِ ! ما عندنا شيٌء قال فإني صائمٌ
“Rasulullah SAW bertanya kepadaku pada suatu hari: Wahai
Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?). Aku menjawab:
wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan). Beliau lalu
bersabda: kalau begitu aku akan puasa” (HR. Muslim no. 1154).
Dari Numan bin Basyir radhiallahuanhu, beliau berkata
kepada para sahabat yang lain:
ألستُم في طعامٍ وشرابٍ ما شئتُم ؟ لقد رأيتُ نبيَّكم صلَّى اللهُ عليه
وسلَّمَ وما يجِدُ من الدَّقَلِ ، ما يملأُ به بطنَه
“Bukankah kalian bisa makan dan minum semau kalian?
Sungguh aku melihat Nabi kalian Shallallahualaihi Wasallam tidak memiliki daql
(kurma yang sudah kurang bagus) sama sekali. Dan tidak ada makanan yang bisa
memenuhi perutnya” (HR. Muslim no. 2977).
Ternyata Nabi SAW tidak selalu memiliki makanan setiap
harinya, bahkan makanan yang sederhana sekalipun. Tidak sebagaimana kebanyakan
kita yang –walhamdulillah– masih bisa mendapati makanan setiap hari bahkan
hingga mengenyangkan perut kita.
Istri Nabi SAW, Ummul Mukminin Aisyah
radhiallallahu’anha juga mengatakan:
كان يأتي علينا الشهرُ ما نوقِدُ فيه نارًا، إنما هو التمرُ والماءُ، إلا أن
نؤتى باللُّحَيمِ
“Pernah kami melalui suatu bulan yang ketika itu kami
tidak menyalakan api sekali pun. Yang kami miliki hanya kurma dan air. Kecuali
ada yang memberi kami hadiah berupa potongan daging kecil untuk dimakan” (HR.
Bukhari no. 6458, Muslim no. 2282).
Rasulullah juga mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya,
menambal baju sendiri, dan memerah kambingnya sendiri. Seperti itulah pekerjaan
keseharian Rasulullah, selalu memenuhi kebutuhan pribadinya secara mandiri,
tanpa membebani keluarga atau orang lain.
Jika beliau mau tentulah sangat mudah menggantikan
pekerjaan itu kepada orang lain, karena beliau adalah kepala rumah tangga
sekaligus kepala negeri Arab pada saat itu. Dalam hal ibadah, sesibuk apapun
beliau ketika Bilal sudah mengumandangkan azan, beliau bergegas ke masjid dan
menjadi imam. Selama hidupnya belum pernah beliau meninggalkan jamaah di masjid
kecuali hari di mana beliau dipanggil menghadap Allah swt karena sakit.
Itulah kisah Nabi Muhammad saw yang mulia, penuh
kesederhanaan dan ibadah kepada Allah swt. Kita bisa mencontoh bahwa sesibuk
apapun nabi, jika sudah masuk waktunya shalat fardhu, beliau akan berangkat ke
masjid. Selain itu, beliau selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangganya dengan
tanggannya sendiri.
Nabi meminta rezeki sekedar yang memenuhi kebutuhan
pokok
Nabi SAW meminta rezeki kepada Allah bagi keluarganya
sekedar makanan yang pas memenuhi kebutuhan pokok, bukan harta yang berlimpah
ruah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا
“Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa
makanan yang secukupnya” (HR. Muslim, no. 1055).
Beliau juga menegaskan bahwa dengan terpenuhinya
kebutuhan pokok seseorang di hari ia bangun dari tidurnya, itu sudah kenikmatan
yang luar biasa. Beliau SAW bersabda:
مَن أصبحَ مِنكُم آمِنًا في سِرْبِه ، مُعافًى في جسَدِهِ ، عندَهُ قُوتُ
يَومِه ، فَكأنَّمَا حِيزَتْ له الدُّنْيا
“Barangsiapa bangun di pagi hari dalam keadaan merasakan
aman pada dirinya, sehat badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka
seolah-olah seluruhnya dunia dikuasakan kepadanya” (HR. Tirmidzi no.2346,
dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, no. 2318).
Sebagian kita memiliki persediaan makanan bahkan tidak
hanya untuk hari ini, bahkan beberapa hari ke depan, atau bahkan sampai
berbulan-bulan ke depan. Belum lagi harta dalam bentuk lain yang bisa ia
gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan juga kebutuhan tersier (tambahan).
Namun ternyata tidak demikian dengan Nabi Shallallahualaihi Wasallam, justru
rezeki beliau sebatas kebutuhan pokok saja.

