- By Muhammad Irsan Rasyad, S.I.Kom.,Gr
- 15 Jul 2026
- 31
Pesantren Sehat dan Aman: Materi Puskesmas dan BINMAS polsek Cisauk di MPLP Al Azka
Pada hari ke-dua dan ke-tiga Masa
Pengenalan Lingkungan Pesantren MPLP 2026, Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka
menghadirkan dua kegiatan penting yang bertujuan membentuk karakter santri
sekaligus menegaskan komitmen pesantren terhadap kesehatan dan keamanan
lingkungan. Materi selasa 14 Juli 2026 disampaikan oleh Dokter Nisa Milati Biyantini dari
Puskesmas Kecamatan Cisauk, Tangerang, dengan tema Lingkungan Bersih Wujud
Hidup Sehat. Materi Rabu 15 Juli 2026 berupa sosialisasi anti bullying yang dipandu oleh
BINMAS Polsek Cisauk, diwakili oleh Ipda Achmad Rustoni dan Ipda Janoko. Kedua
kegiatan ini saling melengkapi dalam upaya membangun kebiasaan positif di
kalangan santri, sekaligus memperkuat sinergi antara pihak pesantren dan
instansi kesehatan serta keamanan setempat.
Dalam pemaparan
tentang hidup sehat, Dokter Nisa menekankan sejumlah praktik sederhana namun
berdampak besar jika dilaksanakan secara konsisten. Praktik yang dibahas
meliputi cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, cuci kaki setelah
beraktivitas di area luar, merawat kebersihan badan, serta menjaga pola tidur
yang cukup dan teratur. Selain itu, Dokter Nisa menjelaskan beberapa sumber
penyakit yang umum ditemukan di lingkungan pesantren, seperti infeksi kulit,
gangguan pernapasan akibat lingkungan kotor, serta penyakit yang menyebar lewat
kontak langsung atau peralatan bersama. Pengetahuan tentang cara mengenali
gejala awal penyakit juga menjadi fokus agar santri dan pengasuh dapat segera
melakukan tindakan pertama yang tepat sebelum merujuk ke layanan kesehatan
formal.
Harapan yang
disampaikan oleh Dokter Nisa sangat jelas. Ia ingin agar santri Pesantren Al
Azka tidak sekadar memahami teori hidup sehat, tetapi mampu menerapkannya dalam
rutinitas harian. Dengan kesadaran tersebut, santri diharapkan mampu mengenali
tanda-tanda awal gangguan kesehatan dan segera melaporkan atau melakukan
tindakan pertolongan pertama. Selain itu, peran aktif pihak pesantren sebagai
lingkungan pendukung kesehatan juga mendapat sorotan. Upaya pencegahan seperti
menjaga kebersihan asrama, dapur, dan area belajar dianggap krusial untuk
meminimalkan risiko penularan penyakit. Nilai-nilai hidup sehat yang
disampaikan oleh Dokter Nisa sejajar dengan himbauan harian di pesantren yang
konsisten mengajak santri agar senantiasa menjaga lingkungan bersih dan menjaga
kebersihan diri.
Pada Hari Ke-tiga kegiatan MPLP yang
menyentuh isu sosial saat ini mempertemukan santri dengan perwakilan BINMAS
Polsek Cisauk. Materi anti bullying yang diberikan oleh Ipda Achmad Rustoni dan
Ipda Janoko, membahas bentuk
bullying baik verbal maupun non verbal serta dampak negatifnya terhadap korban
dan lingkungan belajar. Kedua petugas menegaskan bahwa lingkungan pesantren
harus menjadi tempat aman, di
mana setiap individu merasa dihargai dan dilindungi. Mereka mengingatkan santri
bahwa tindakan bullying tidak hanya merusak mental korban, tetapi juga mengganggu proses belajar dan
keharmonisan komunitas pesantren.
Menurut penjelasan
Ipda Janoko, salah satu kunci pencegahan bullying adalah kedisiplinan. Santri
yang memiliki disiplin tinggi terhadap waktu kegiatan, aturan asrama, dan tata
krama cenderung lebih fokus pada tugas pendidikan dan kurang terdorong
melakukan perilaku merugikan orang lain. Disiplin membentuk pola pikir
bertanggung jawab dan kesadaran komunitas yang mengedepankan tata tertib. Tak
kalah penting, kedisiplinan yang diterapkan di pesantren perlu didukung oleh
orang tua di rumah.Salah satunya
Ipda Janoko menghimbau agar wali santri mematuhi jadwal kunjungan yang telah
ditetapkan pesantren. Praktik mendatangi anak tanpa pemberitahuan atau
melanggar aturan kunjungan,
justru dapat memberi sinyal kepada santri bahwa aturan bisa diabaikan sehingga
menurunkan kualitas kedisiplinan.
Kombinasi materi
kesehatan dan anti bullying di hari kedua MPLP 2026 diharapkan memberikan
pembekalan menyeluruh bagi santri baru. Pembekalan itu bukan sekadar transfer
informasi, melainkan upaya pembentukan kebiasaan dan sikap yang akan membimbing
kehidupan sehari hari di pesantren. Dengan bekal hidup sehat, pengenalan gejala
penyakit, dan kesadaran anti bullying, pesantren diharapkan menjadi lingkungan
belajar yang aman, bersih, dan kondusif untuk menghafal dan memahami Al Quran.
Kegiatan ini juga
memperkuat nilai sinergi antara pesantren, layanan kesehatan masyarakat, dan
aparat keamanan setempat. Ketiga pihak memiliki peran berbeda namun saling
melengkapi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan aman. Ke
depan, konsistensi penerapan pesan penting ini oleh santri, dukungan pengasuh,
dan keterlibatan wali santri akan menjadi kunci keberhasilan implementasi.
Semoga Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka terus menjadi teladan dalam menjaga
kebersihan, kesehatan, dan keharmonisan lingkungan belajar sehingga para santri
dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, disiplin, dan berakhlak mulia.

