Pesantren Sehat dan Aman: Materi Puskesmas dan BINMAS polsek Cisauk di MPLP Al Azka

Pada hari ke-dua dan ke-tiga Masa Pengenalan Lingkungan Pesantren MPLP 2026, Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka menghadirkan dua kegiatan penting yang bertujuan membentuk karakter santri sekaligus menegaskan komitmen pesantren terhadap kesehatan dan keamanan lingkungan. Materi selasa 14 Juli 2026 disampaikan oleh Dokter Nisa Milati Biyantini dari Puskesmas Kecamatan Cisauk, Tangerang, dengan tema Lingkungan Bersih Wujud Hidup Sehat. Materi Rabu 15 Juli 2026 berupa sosialisasi anti bullying yang dipandu oleh BINMAS Polsek Cisauk, diwakili oleh Ipda Achmad Rustoni dan Ipda Janoko. Kedua kegiatan ini saling melengkapi dalam upaya membangun kebiasaan positif di kalangan santri, sekaligus memperkuat sinergi antara pihak pesantren dan instansi kesehatan serta keamanan setempat.

Dalam pemaparan tentang hidup sehat, Dokter Nisa menekankan sejumlah praktik sederhana namun berdampak besar jika dilaksanakan secara konsisten. Praktik yang dibahas meliputi cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, cuci kaki setelah beraktivitas di area luar, merawat kebersihan badan, serta menjaga pola tidur yang cukup dan teratur. Selain itu, Dokter Nisa menjelaskan beberapa sumber penyakit yang umum ditemukan di lingkungan pesantren, seperti infeksi kulit, gangguan pernapasan akibat lingkungan kotor, serta penyakit yang menyebar lewat kontak langsung atau peralatan bersama. Pengetahuan tentang cara mengenali gejala awal penyakit juga menjadi fokus agar santri dan pengasuh dapat segera melakukan tindakan pertama yang tepat sebelum merujuk ke layanan kesehatan formal.

Harapan yang disampaikan oleh Dokter Nisa sangat jelas. Ia ingin agar santri Pesantren Al Azka tidak sekadar memahami teori hidup sehat, tetapi mampu menerapkannya dalam rutinitas harian. Dengan kesadaran tersebut, santri diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan dan segera melaporkan atau melakukan tindakan pertolongan pertama. Selain itu, peran aktif pihak pesantren sebagai lingkungan pendukung kesehatan juga mendapat sorotan. Upaya pencegahan seperti menjaga kebersihan asrama, dapur, dan area belajar dianggap krusial untuk meminimalkan risiko penularan penyakit. Nilai-nilai hidup sehat yang disampaikan oleh Dokter Nisa sejajar dengan himbauan harian di pesantren yang konsisten mengajak santri agar senantiasa menjaga lingkungan bersih dan menjaga kebersihan diri.

Pada Hari Ke-tiga kegiatan MPLP yang menyentuh isu sosial saat ini mempertemukan santri dengan perwakilan BINMAS Polsek Cisauk. Materi anti bullying yang diberikan oleh Ipda Achmad Rustoni dan Ipda Janoko, membahas bentuk bullying baik verbal maupun non verbal serta dampak negatifnya terhadap korban dan lingkungan belajar. Kedua petugas menegaskan bahwa lingkungan pesantren harus menjadi tempat aman, di mana setiap individu merasa dihargai dan dilindungi. Mereka mengingatkan santri bahwa tindakan bullying tidak hanya merusak mental korban, tetapi juga mengganggu proses belajar dan keharmonisan komunitas pesantren.

Menurut penjelasan Ipda Janoko, salah satu kunci pencegahan bullying adalah kedisiplinan. Santri yang memiliki disiplin tinggi terhadap waktu kegiatan, aturan asrama, dan tata krama cenderung lebih fokus pada tugas pendidikan dan kurang terdorong melakukan perilaku merugikan orang lain. Disiplin membentuk pola pikir bertanggung jawab dan kesadaran komunitas yang mengedepankan tata tertib. Tak kalah penting, kedisiplinan yang diterapkan di pesantren perlu didukung oleh orang tua di rumah.Salah satunya Ipda Janoko menghimbau agar wali santri mematuhi jadwal kunjungan yang telah ditetapkan pesantren. Praktik mendatangi anak tanpa pemberitahuan atau melanggar aturan kunjungan, justru dapat memberi sinyal kepada santri bahwa aturan bisa diabaikan sehingga menurunkan kualitas kedisiplinan.

Kombinasi materi kesehatan dan anti bullying di hari kedua MPLP 2026 diharapkan memberikan pembekalan menyeluruh bagi santri baru. Pembekalan itu bukan sekadar transfer informasi, melainkan upaya pembentukan kebiasaan dan sikap yang akan membimbing kehidupan sehari hari di pesantren. Dengan bekal hidup sehat, pengenalan gejala penyakit, dan kesadaran anti bullying, pesantren diharapkan menjadi lingkungan belajar yang aman, bersih, dan kondusif untuk menghafal dan memahami Al Quran.

Kegiatan ini juga memperkuat nilai sinergi antara pesantren, layanan kesehatan masyarakat, dan aparat keamanan setempat. Ketiga pihak memiliki peran berbeda namun saling melengkapi untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan aman. Ke depan, konsistensi penerapan pesan penting ini oleh santri, dukungan pengasuh, dan keterlibatan wali santri akan menjadi kunci keberhasilan implementasi. Semoga Pesantren Tahfizhul Quran Al Azka terus menjadi teladan dalam menjaga kebersihan, kesehatan, dan keharmonisan lingkungan belajar sehingga para santri dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, disiplin, dan berakhlak mulia.