- By Muhammad Irsan Rasyad, S.I.Kom.,Gr
- 16 Jul 2026
- 140
Ka Toyyib di MPLP: Cerita, Tawa, dan Semangat Baru untuk Santri
Hari Kamis, 16 Juli
2026, suasana di Pondok Tahfizh Al-Quran terasa berbeda. Kegiatan MPLP atau
masa pengenalan lingkungan pesantren menjadi lebih hidup karena panitia
menghadirkan Ka Toyyib Effendi. Ka Toyyib datang sebagai kids trainer,
pendongeng, dan motivator anak yang sudah sering mengisi program edukasi keislaman
seperti Pesantren Ramadhan dan Wonderful Kids. Kehadirannya membuat santri
makin antusias mengikuti rangkaian kegiatan.
Gaya Ka Toyyib khas
dan mudah diterima anak-anak. Dia tidak sekadar bercerita; penyampaian pesannya
dibalut hiburan yang membuat santri tertawa dan ikut larut. Ketika Ka Toyyib
maju ke depan, suasana yang semula tenang langsung berubah menjadi penuh tawa
dan fokus. Cerita yang disampaikan diselingi interaksi langsung dengan santri.
Kadang beliau meminta beberapa santri maju ke panggung, lalu mengajukan
pertanyaan ringan yang memancing jawaban spontan. Cara ini membuat peserta
tidak pasif; mereka belajar sambil bermain sehingga pesan moral lebih mudah
diingat.
Selain bercerita, Ka
Toyyib juga memasukkan unsur ice breaking di sela-sela cerita. Ice breaking
sederhana itu berfungsi mengembalikan energi ketika konsentrasi mulai menurun.
Lagu kecil, tepuk ritme, atau permainan cepat jadi alat ampuh untuk menyegarkan
suasana. Hasilnya, perhatian santri tetap terjaga sampai akhir sesi. Metode
yang ramah anak seperti ini cocok untuk masa awal adaptasi di pesantren,
khususnya bagi santri yang baru pertama kali tinggal jauh dari keluarga.
Tidak hanya
menghibur, Ka Toyyib juga membawa materi motivasi dalam bentuk audio visual.
Tayangan singkat tersebut menekankan pentingnya ketekunan menuntut ilmu dan
rasa syukur karena diberi kesempatan mondok di pesantren tahfizh. Visual yang
sederhana tapi menyentuh membuat pesan tersampaikan lebih kuat. Santri diajak
melihat bahwa menuntut ilmu adalah jalan mulia yang memerlukan konsistensi dan
niat yang benar. Pesan itu disampaikan tanpa menggurui, sehingga santri merasa
termotivasi bukan karena takut, melainkan karena paham nilai di balik usaha
mereka.
Salah satu bagian
yang meninggalkan kesan mendalam adalah ketika Ka Toyyib menekankan hubungan
santri dengan orang tua. Dalam ceritanya beliau mengingatkan bahwa meski santri
menempuh pendidikan dengan tinggal di pesantren, kewajiban untuk menjaga hormat
dan kasih sayang kepada kedua orang tua tidak boleh hilang. Ka Toyyib mengajak
santri untuk selalu mendoakan orang tua dan berterima kasih atas izin mereka
untuk mondok. Pesan ini sederhana tetapi sering terlupakan oleh anak yang
sedang bersemangat menuntut ilmu jauh dari rumah. Pengingat seperti itu membuat
keluarganya tetap terhubung secara batin lewat doa dan rasa syukur.
Selama sesi, banyak
reaksi positif. Beberapa santri terlihat berbisik satu sama lain, tertawa
bersama, atau menunduk mendengarkan bagian cerita yang menyentuh. Para panitia
pun merasa lega karena tujuan MPLP tercapai: membantu santri mengenali
lingkungan pesantren sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan beragama
dan sosial. Kehadiran Ka Toyyib efektif sebagai jembatan antara hiburan dan
pendidikan, sebuah kombinasi yang ideal untuk anak-anak.
Penutup acara
diwarnai tepuk tangan hangat dan foto bersama. Banyak santri yang membawa
pulang bukan hanya kenangan lucu, tetapi juga pesan penting tentang ketekunan,
rasa syukur, dan kewajiban berbakti kepada orang tua. Semoga metode seperti
yang dibawa Ka Toyyib terus digunakan dalam kegiatan pesantren agar
pembelajaran menjadi menyenangkan sekaligus bermakna bagi para santri.

