Berita
- By KH. Abdul Aziz Mudzakir Al-Hafizh
- 13 Feb 2025
- 339
TENTANG KEUTAMAAN SYABAN
Sebelum masyhur seperti sekarang, dahulu Syaban adalah bulan yang sering
dilupakan orang karena terletak di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan.
Padahal bulan Syaban mengandung keistimewaan yang tak dimiliki oleh bulan-bulan
lainnya.
Salah satu kitab yang menguraikan berbagai keistimewaan bulan Syaban adalah
Madza fi Syaban yang ditulis oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Hasani, seorang
ulama hadits besar asal Makkah.
Sebagaimana kitab-kitabnya yang lain, ciri khas dari karangan Sayyid
Muhammad ini adalah kajiannya yang banyak menggunakan hadits Nabi saw dan
riwayat-riwayat lainnya.
Di awal kitab, beliau langsung mengutip salah satu hadits yang menerangkan
peristiwa diangkatnya amal di bulan Syaban dan anjuran berpuasa di dalamnya:
Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata: aku berkata, wahai Rasulullah saw, aku
tidak pernah melihatmu berpuasa di suatu bulan melebihi puasamu di bulan Syaban.
Rasulullah saw berkata, Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang sering
dilupakan manusia, padahal itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan
semesta alam, dan aku suka amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa. (HR.
An-Nasai).
Terkait anjuran berpuasa di bulan Syaban, Sayyid Muhammad mengukuhkannya
sebagai amalan puasa paling utama setelah Ramadhan. Keunggulan puasa bulan Syaban
dibandingkan bulan-bulan lainnya diambil dari riwayat Siti Aisyah:
Nabi saw tidak pernah berpuasa di suatu bulan lebih banyak dibandingkan
dari bulan Syaban. Sesungguhnya beliau pernah berpuasa di seluruh bulan Syaban.
(HR. Bukhari)
Menurut Sayyid Muhammad, gemarnya
Nabi Muhammad saw dalam
berpuasa di bulan Syaban ini adalah untuk perisapan menghadapi bulan Ramadhan
dan sebagai bentuk pengagungan. Pola ibadah tersebut serupa dengan mendahulukan sholat sunnah rawatib
sebelum melaksanakan sholat fardhu.
Satu hal yang unik dalam kitab
ini adalah penyebutan bulan Syaban sebagai bulan Al-Quran. Padahal umumnya,
bulan Syaban lebih masyhur dikenal sebagai bulan shalawat.
Ungkapan bulan shalawat muncul
karena di bulan Syaban inilah ayat yang memerintahkan shalawat pada Nabi
Muhammad saw diturunkan, yaitu di surat Al-Ahzab ayat 56: Sesungguhnya Allah
dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman!
Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan
kepadanya.
Sementara ungkapan bln Al-Quran lebih sering disematkan kepada bulan
Ramadhan, mengingat ayat Al-Quran pertama kali di turunkan di bulan tersebut
yang kita kenal sebagai malam nuzulul quran.
Sembilan Nama Malam Nishfu Syaban, dalam Kitab
Madza fi Syaban
Guna memahami Malam Nishfu Syaban, berikut ada 9 nama indah tentangnya,
menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
· Laylah Mubarakah
(malam keberkahan).
Maksudnya malam ini memiliki keberkahan tersendiri. Karena di malam ini
malaikat turun menyertai manusia.
· Laylah al-Qismah
(malam pembagian).
Artinya bahwa di malam ini semua rezeki dan takdir ditentukan dan dibagikan
kepada setiap makhluk-Nya. Dalam
sebuah riwayat disebutkan bahwa pada malam nisfu syaban ini baik rezeki, jodoh,
maupun pernikahan.
· Laylah at-takfir
(malam penghapusan dosa).
Artinya bahwa di malam ini dosa manusia selama satu tahun akan diampuni
Allah Taala sebab kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya di malam ini.
· Laylah al-Ijabah
(malam keterkabulan doa).
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Umar diinformasikan bahwa ada lima malam di mana
doa-doa yang dipanjatkan akan terkabulkan malam Jumat, malam pertama bulan
Rajab, malam Nishfu Syaban, malam lailatul qadar dan malam dua hari raya Idul
Fitri dan Idul Adha.
· Laylah al-Hayat wa iedul
malaikat (malam kehidupan dan hari raya malaikat).
Sebagaimana hari raya bagi umat Islam, malaikat juga memiliki dua hari raya
yakni malam Lailatul Qadar dan malam Nishfu Syaban.
· Laylah as-Syafaah
(malam syafaat).
Abu Hakim an-naisaburi menamakan malam nisfu syaban adalah malam
diberikannya syafaat kepada umat Nabi Muhammad.
· Laylah al-baraah wa
laylah as-Shakki (malam pembebasan).
Dinamakan dengan malam kebersihan karena di malam ini orang-orang mukmin
dicatat kesuciannya.
· Laylah al-Jaizah
(malam hadiah).
Imam Taqiyuddin as-Subki menamakan malam nisfu Syaban sebagai malam yang
dihadiahkan kepada orang-orang mukmin.
· Laylah al-Ghufran wal
itqi minan niran (malam ampunan dan pembebasan dari api neraka).
Pada malam ini orang-orang beriman akan mendapatkan ampunan dan pembebasan
dari api neraka.

-500x500.jpg)