- By Muhammad Irsan Rasyad, S.I.Kom, Gr
- 01 Apr 2026
- 200
Kembalinya Santri Al Azka dan Tradisi Halal Bihalal Pesantren Tahfizhul Al-Quran
Pada tanggal 29
Maret 2026, suasana Pesantren Tahfizhul Al-Quran Al Azka mulai ramai kembali.
Santri-santri yang telah menikmati libur Lebaran Idul fitri selama dua pekan
penuh, secara bertahap berdatangan ke pesantren. Mereka datang dengan semangat
baru setelah berkumpul bersama keluarga di berbagai daerah. Proses kedatangan
ini berlangsung tertib, dengan para pengurus pesantren menyambut mereka hangat.
Hal ini menandai dimulainya periode kegiatan belajar mengajar pasca-libur
panjang, di mana santri kembali fokus pada hafalan Al-Quran dan pendidikan
formal.
Keesokan
harinya, tepat pada Senin, 30 Maret 2026, Pesantren Tahfizhul Al-Quran Al Azka
menggelar acara Halal Bihalal sebagai tradisi tahunan. Kegiatan ini melibatkan
seluruh guru, staf, dan santri Al Azka. Sesuai kebiasaan setiap tahun, acara
ini menjadi momen sakral sebelum pembelajaran formal dimulai. Santri secara
langsung melakukan sowan kepada para guru, menunjukkan sikap hormat dan
ketaatan sebagai murid. Ruang acara dipenuhi nuansa kebersamaan Islami.
Dalam
sambutannya, Ibu Harni, M.Pd., selaku salah satu direktur pendidikan Al Azka,
menyampaikan pesan inspiratif. Beliau mengajak seluruh santri untuk terus
menjaga kebersihan lingkungan pesantren. "Kebersihan adalah bagian dari
iman," ujarnya, mengutip hadits Nabi Muhammad SAW. Menurut Ibu Harni,
menjaga kebersihan tidak hanya menciptakan kenyamanan bersama, tetapi juga
melatih disiplin dan tanggung jawab santri. Beliau menekankan bahwa lingkungan
pesantren yang bersih akan mendukung proses tahfidz Al-Quran yang optimal, di
mana santri dapat belajar dengan khusyuk tanpa gangguan.
Acara Halal
Bihalal berlangsung khidmat dan penuh makna. Setelah sambutan, dilanjutkan
dengan sesi sowan massal. Santri dengan penuh tawadhu mendekati dewan guru satu
per satu. Mereka memohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin telah
dilakukan selama ini sebagai murid. Sikap rendah hati ini mencerminkan
nilai-nilai tasawuf yang diajarkan pesantren. Para guru pun merespons dengan
bijaksana setelah memaafkan santri, mereka juga memohon maaf jika dalam proses
mengajar terdapat kekurangan atau kesalahan. Interaksi ini mempererat tali
silaturahmi, menghapus segala prasangka, dan membangun harmoni antarwarga
pesantren.
Tradisi Halal
Bihalal ini bukan sekadar seremoni, melainkan pondasi budaya pesantren Al Azka.
Kegiatan semacam ini memperkuat ikatan emosional antara guru dan santri,
sekaligus menanamkan nilai maaf-memaafkan sebagai ajaran Islam. Pasca-acara,
santri segera mempersiapkan diri untuk rutinitas harian, termasuk murojaah
hafalan dan pelajaran umum. Pesantren Tahfizhul Al-Quran Al Azka terus
berkomitmen menghasilkan generasi hafidz yang berakhlak mulia, siap
berkontribusi bagi masyarakat.

